KAMIS 28 Oktober 2010, tepat 82 tahun pemuda Indonesia berikrar untuk ber-Tanah Air Satu, ber-Bangsa Satu, dan ber-Bahasa Satu, yaitu Indonesia.
Momentum historis nan heroik bagi bangsa, teristimewa generasi muda. Aneka peringatan Hari Sumpah Pemuda digelar mulai Sabang sampai Merauke. Murid SD hingga mahasiswa serta pemerintah, tak pernah absen.
Museum Sumpah Pemuda di Jakarta pun ramai dikunjungi siswa dan pemuda. Museum ini menjadi simbol kepahlawanan pemuda Indonesia dalam membangun bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Masih kah pemuda kita an mengamalkan nilai kejuangan pemuda tempoe doeloe? Mari buka pidato Bung Karno dalam Kongres Pemuda. Berilah aku 100 orangtua. Dengan 100 orangtua, aku akan memindahkan Gunung Semeru. Tetapi, beri aku 10 pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncangkan dunia.
Apa makna pidato proklamator RI? Bung Karno memberi penghormatan setinggi langit pada generasi muda. Pengandaian 10 pemuda dapat mengguncangkan atau mengubah dunia, mengandung makna, betapa hebat pemuda yang tak lapuk dimakan zaman.
Sejarah bangsa mencatat fakta perjuangan yang senantiasa ditandai presensi kaum muda. Pemuda sebagai pendobrak sejati dalam menancapkan panji perjuangan di Bumi Pertiwi. Generasi muda, pilar penting perjuangan demi keutuhan dan kelestarian bangsa Indonesia.
Kebangkitan nasional yang dipelopori Boedi Oetomo 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, aksi pemuda 16 Agustus 1945 (Rengasdengklok), hingga Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah bukti tak terbantah.
Perlawanan pemuda Surabaya pada penjajah, 10 November 1945, menunjuk pemuda sebagai aktor utama perjuangan bangsa. Jatidiri pemuda sarat kerelaan berbuat baik kepada sesama anak bangsa.
Pemuda memasuki perspektif nasional dengan menanggalkan kepentingan budaya, suku, agama, suku, dan asal-usul. Energi luar biasa pemuda yang melahirkan kekuatan dahsyat dalam garis perjuangan bangsa.
Kini, masihkah pemuda Indonesia seperti era perjuangan 1928? Era globalisasi seharusnya tak membuat krisis jatidiri, karena imperative ideas pemuda pahlawan, berpijak nilai-nilai luhur kehidupan, kebangsaan, nasionalisme, dan utamanya ke-Tuhanan.
Nasionalisme yang religius menjadi benteng dari godaan abad materialisme saat ini. Kemewahan harta dunia, popularitas karier sampai jabatan mentereng, bukan tujuan perjuangan pemuda. Apalagi, larut dalam ‘kebahagiaan’ dan ‘nikmat’ narkoba.
Orientasi perjuangan pemuda, fokus jatidiri bangsa yang berbudaya, beragama dan mengacu kesejahteraan rakyat lahir batin. Apabila tempo dulu yang diperangi penjajah, kini penjajah tersembunyi.
Penjajahan tersembunyi bangsa kita, bisa datang dari luar dan dalam negeri. Imperalisme asing bisa bersembunyi di balik ekonomi, budaya maupun politik. Penjajahan domestik yang membawa kesengsaraan rakyat dan bangsa pun bukan berarti tak ada.
Segala bentuk eksploitasi rakyat, bangsa dan negara yang berpotensi menjauhkan Indonesia adil, sejahtera, damai dan sentosa, adalah “musuh” pemuda hero. Kendati demikian, tak perlu lagi mengangkat senjata atau bambu runcing.
Zaman telah berubah, metode perjuangan pemuda niscaya berubah pula. Unjukrasa bukan jalan utama. Orientasi perjuangan kepentingan rakyat bisa diamalkan melalui bantuan langsung, di mana rakyat membutuhkan. Di sektor apa pun dan di mana pun.
Membangun kemitraan strategis dengan lembaga-lembaga negara, urgen untuk mendinamisir akselerasi terwujudnya cita-cita nasional. Aksi massa hanya jalan terakhir dengan tetap berpijak heroisme yang cerdas dan bijak. Zaman perjuangan berdarah-darah telah lewat.
Menghadapi ‘tembok kekuasaan’, pemuda tak perlu anarkistis. Optimalisasi jaringan internasional hingga PBB menjadi senjata cerdas. Semoga sikap oposisi permanen Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia, kian menyadarkan pemerintah bahwa cita-cita rakyat sejahtera masih jauh. Semoga! (*
)
Momentum historis nan heroik bagi bangsa, teristimewa generasi muda. Aneka peringatan Hari Sumpah Pemuda digelar mulai Sabang sampai Merauke. Murid SD hingga mahasiswa serta pemerintah, tak pernah absen.
Museum Sumpah Pemuda di Jakarta pun ramai dikunjungi siswa dan pemuda. Museum ini menjadi simbol kepahlawanan pemuda Indonesia dalam membangun bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Masih kah pemuda kita an mengamalkan nilai kejuangan pemuda tempoe doeloe? Mari buka pidato Bung Karno dalam Kongres Pemuda. Berilah aku 100 orangtua. Dengan 100 orangtua, aku akan memindahkan Gunung Semeru. Tetapi, beri aku 10 pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncangkan dunia.
Apa makna pidato proklamator RI? Bung Karno memberi penghormatan setinggi langit pada generasi muda. Pengandaian 10 pemuda dapat mengguncangkan atau mengubah dunia, mengandung makna, betapa hebat pemuda yang tak lapuk dimakan zaman.
Sejarah bangsa mencatat fakta perjuangan yang senantiasa ditandai presensi kaum muda. Pemuda sebagai pendobrak sejati dalam menancapkan panji perjuangan di Bumi Pertiwi. Generasi muda, pilar penting perjuangan demi keutuhan dan kelestarian bangsa Indonesia.
Kebangkitan nasional yang dipelopori Boedi Oetomo 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, aksi pemuda 16 Agustus 1945 (Rengasdengklok), hingga Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah bukti tak terbantah.
Perlawanan pemuda Surabaya pada penjajah, 10 November 1945, menunjuk pemuda sebagai aktor utama perjuangan bangsa. Jatidiri pemuda sarat kerelaan berbuat baik kepada sesama anak bangsa.
Pemuda memasuki perspektif nasional dengan menanggalkan kepentingan budaya, suku, agama, suku, dan asal-usul. Energi luar biasa pemuda yang melahirkan kekuatan dahsyat dalam garis perjuangan bangsa.
Kini, masihkah pemuda Indonesia seperti era perjuangan 1928? Era globalisasi seharusnya tak membuat krisis jatidiri, karena imperative ideas pemuda pahlawan, berpijak nilai-nilai luhur kehidupan, kebangsaan, nasionalisme, dan utamanya ke-Tuhanan.
Nasionalisme yang religius menjadi benteng dari godaan abad materialisme saat ini. Kemewahan harta dunia, popularitas karier sampai jabatan mentereng, bukan tujuan perjuangan pemuda. Apalagi, larut dalam ‘kebahagiaan’ dan ‘nikmat’ narkoba.
Orientasi perjuangan pemuda, fokus jatidiri bangsa yang berbudaya, beragama dan mengacu kesejahteraan rakyat lahir batin. Apabila tempo dulu yang diperangi penjajah, kini penjajah tersembunyi.
Penjajahan tersembunyi bangsa kita, bisa datang dari luar dan dalam negeri. Imperalisme asing bisa bersembunyi di balik ekonomi, budaya maupun politik. Penjajahan domestik yang membawa kesengsaraan rakyat dan bangsa pun bukan berarti tak ada.
Segala bentuk eksploitasi rakyat, bangsa dan negara yang berpotensi menjauhkan Indonesia adil, sejahtera, damai dan sentosa, adalah “musuh” pemuda hero. Kendati demikian, tak perlu lagi mengangkat senjata atau bambu runcing.
Zaman telah berubah, metode perjuangan pemuda niscaya berubah pula. Unjukrasa bukan jalan utama. Orientasi perjuangan kepentingan rakyat bisa diamalkan melalui bantuan langsung, di mana rakyat membutuhkan. Di sektor apa pun dan di mana pun.
Membangun kemitraan strategis dengan lembaga-lembaga negara, urgen untuk mendinamisir akselerasi terwujudnya cita-cita nasional. Aksi massa hanya jalan terakhir dengan tetap berpijak heroisme yang cerdas dan bijak. Zaman perjuangan berdarah-darah telah lewat.
Menghadapi ‘tembok kekuasaan’, pemuda tak perlu anarkistis. Optimalisasi jaringan internasional hingga PBB menjadi senjata cerdas. Semoga sikap oposisi permanen Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia, kian menyadarkan pemerintah bahwa cita-cita rakyat sejahtera masih jauh. Semoga! (*
)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar