• Imagen 1 BERJAYA BERSAMA
    Lomba Desain Blog dalam rangka Sumpah Pemuda, Mal Pekanbaru ke-7, dan HUT Telkom ke 154
Selamat Datang ! Semoga blog ini berguna bagi . Terimakasih!

Sabtu, 30 Oktober 2010

Sejarah Telkom

1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda.


1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegrap dan Telepon (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).


1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.


1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).


1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).


1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.


1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel.


1989 Undang-undang nomor 3/1989 tentang Telekomunikasi, tentang peran serta swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.


1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no.25 tahun 1991.


1995 Penawaran Umum perdana saham TELKOM (Initial Public Offering/IPO) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing/POWL) di Tokyo Stock Exchange.


1996 Kerja sama Operasi (KSO) mulai diimplementasikan pada 1 Januari 1996 di wilayah Divisi Regional I Sumatra – dengan mitra PT Pramindo Ikat Nusantara (Pramindo); Divisi Regional III Jawa Barat dan Banten – dengan mitra PT Aria West International (AriaWest); Divisi Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta – dengan mitra PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI); Divisi Regional VI Kalimantan – dengan mitra PT Dayamitra Telekomunikasi (Dayamitra); dan Divisi Regional VII Kawasan Timur Indonesia – dengan mitra PT Bukaka Singtel.


1999 Undang-undang nomor 36/1999, tentang penghapusan monopoli penyelenggaraan telekomunikasi.


2001 TELKOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia, yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan transaksi ini, TELKOM menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM membeli 90,32% saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan keuangan TELKOM.


2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yaitu 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisa 55% saham pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual 12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.

Mall Pekanbaru

Mall Pekanbaru terletak di seberang Plaza Senapelan persimpangan jalan Jendral Sudirman dan Teuku Umar. Tempat wisata belanja modren yang satu ini merupakan Mall pertama di Pekanbaru.




Mall Pekanbaru merupakan salah satu pusat perbelanjaan modern yang lengkap yang tidak hanya menyediakan busana, sepatu, perlengkapan sehari-hari kalangan atas, tetapi juga menyediakan semua kebutuhan berbagai lapisan.


Food court, elektronik dan handphone yang relatif terjangkau serta swalayan yang menyediakan buah-buahan dan alat tulis kantor semakin menambah semaraknya Mal Pekanbaru. Selain itu disini juga tersedia tempat bermain anak-anak yang luas lho.!

Sumpah Pemuda yang Terbelenggu

KAMIS 28 Oktober 2010, tepat 82 tahun pemuda Indonesia berikrar untuk ber-Tanah Air Satu, ber-Bangsa Satu, dan ber-Bahasa Satu, yaitu Indonesia.


Momentum historis nan heroik bagi bangsa, teristimewa generasi muda. Aneka peringatan Hari Sumpah Pemuda digelar mulai Sabang sampai Merauke. Murid SD hingga mahasiswa serta pemerintah, tak pernah absen.


Museum Sumpah Pemuda di Jakarta pun ramai dikunjungi siswa dan pemuda. Museum ini menjadi simbol kepahlawanan pemuda Indonesia dalam membangun bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Masih kah pemuda kita an mengamalkan nilai kejuangan pemuda tempoe doeloe? Mari buka pidato Bung Karno dalam Kongres Pemuda. Berilah aku 100 orangtua. Dengan 100 orangtua, aku akan memindahkan Gunung Semeru. Tetapi, beri aku 10 pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncangkan dunia.


Apa makna pidato proklamator RI? Bung Karno memberi penghormatan setinggi langit pada generasi muda. Pengandaian 10 pemuda dapat mengguncangkan atau mengubah dunia, mengandung makna, betapa hebat pemuda yang tak lapuk dimakan zaman. 


Sejarah bangsa mencatat fakta perjuangan yang senantiasa ditandai presensi kaum muda. Pemuda sebagai pendobrak sejati dalam menancapkan panji perjuangan di Bumi Pertiwi. Generasi muda, pilar penting perjuangan demi keutuhan dan kelestarian bangsa Indonesia. 


Kebangkitan nasional yang dipelopori Boedi Oetomo 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, aksi pemuda 16 Agustus 1945 (Rengasdengklok), hingga Proklamasi 17 Agustus 1945, adalah bukti tak terbantah. 


Perlawanan pemuda Surabaya pada penjajah, 10 November 1945, menunjuk pemuda sebagai aktor utama perjuangan bangsa. Jatidiri pemuda sarat kerelaan berbuat baik kepada sesama anak bangsa.


Pemuda memasuki perspektif nasional dengan menanggalkan kepentingan budaya, suku, agama, suku, dan asal-usul. Energi luar biasa pemuda yang melahirkan kekuatan dahsyat dalam garis perjuangan bangsa. 


Kini, masihkah pemuda Indonesia seperti era perjuangan 1928? Era globalisasi seharusnya tak membuat krisis jatidiri, karena imperative ideas pemuda pahlawan, berpijak nilai-nilai luhur kehidupan, kebangsaan, nasionalisme, dan utamanya ke-Tuhanan. 


Nasionalisme yang religius menjadi benteng dari godaan abad materialisme saat ini. Kemewahan harta dunia, popularitas karier sampai jabatan mentereng, bukan tujuan perjuangan pemuda. Apalagi, larut dalam ‘kebahagiaan’ dan ‘nikmat’ narkoba.


Orientasi perjuangan pemuda, fokus jatidiri bangsa yang berbudaya, beragama dan mengacu kesejahteraan rakyat lahir batin. Apabila tempo dulu yang diperangi penjajah, kini penjajah tersembunyi. 


Penjajahan tersembunyi bangsa kita, bisa datang dari luar dan dalam negeri. Imperalisme asing bisa bersembunyi di balik ekonomi, budaya maupun politik. Penjajahan domestik yang membawa kesengsaraan rakyat dan bangsa pun bukan berarti tak ada.


Segala bentuk eksploitasi rakyat, bangsa dan negara yang berpotensi menjauhkan Indonesia adil, sejahtera, damai dan sentosa, adalah “musuh” pemuda hero. Kendati demikian, tak perlu lagi mengangkat senjata atau bambu runcing.


Zaman telah berubah, metode perjuangan pemuda niscaya berubah pula. Unjukrasa bukan jalan utama. Orientasi perjuangan kepentingan rakyat bisa diamalkan melalui bantuan langsung, di mana rakyat membutuhkan. Di sektor apa pun dan di mana pun.


Membangun kemitraan strategis dengan lembaga-lembaga negara, urgen untuk mendinamisir akselerasi terwujudnya cita-cita nasional. Aksi massa hanya jalan terakhir dengan tetap berpijak heroisme yang cerdas dan bijak. Zaman perjuangan berdarah-darah telah lewat. 


Menghadapi ‘tembok kekuasaan’, pemuda tak perlu anarkistis. Optimalisasi jaringan internasional hingga PBB menjadi senjata cerdas. Semoga sikap oposisi permanen Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia, kian menyadarkan pemerintah bahwa cita-cita rakyat sejahtera masih jauh. Semoga! (*
)

Menumbuhkan Kembali Patriotisme dan Nasionalisme

SEKITAR 82 tahun silam, ketika gempuran senjata masih begitu kental terasa, para pemuda maju ke garda depan sambil membusungkan dada untuk mempertahankan harga diri bangsa. Kaum kolonialis hanya tersenyum culas memandang Indonesia yang tidak bisa berkutik saat itu, seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Realitas mengenai ketertindasan inilah yang mendorong para pemuda saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat bangsa.

Usaha para pemuda dibayar dengan buah keberhasilan yang sepadan. Salah satu bukti otentik lahirnya bangsa Indonesia adalah dengan dicetuskannya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sebuah sumpah dari para pemuda Indonesia tentang loyalitas dan dedikasi mereka terhadap negara. Mereka mengukir jiwa nasionalisme dan patriotisme dengan tiga kata kunci : satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Indonesia benar-benar telah menjadi sebuah negara, bukan lagi suku-suku yang berjalan sendiri dengan kepincangannya.

Meminjam kata-kata Moch. Yamin, semangat yang selama ini tertidur kini telah bangun. Inilah yang dinamakan roh Indonesia. Para pemuda saat itu telah menunjukkan integritasnya yang tinggi, demi bumi pertiwi. Dengan nasionalisme dan patriotisme yang tinggi, mereka bahu-membahu untuk menghancurkan kemunafikan kaum kolonialis. Membuka ruang bagi rakyat yang tertindas untuk menghirup kebebasan hak asasi manusia.

Ingat selalu kata-kata brilian Bung Karno yang menyatakan "Jas merah", jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Sebuah kata yang tidak kosong, melainkan mampu men-dopping dan memberi suggest bagi siapa saja yang mendengarnya. Sebuah histori yang diukir dengan tinta emas, menggambarkan seberapa keras dan mahalnya sebuah kebebasan. Penyulut semangat agar rasa cinta dan loyalitas terhadap tanah air semakin membumbung tinggi.

Hanya saja, apakah kata-kata itu masih terukir di dalam memori? Masih adakah yang mengaplikasikannya dengan baik atau justru berakhir sebagai angin lalu dengan makna ambiguitas? Mempelajari dan mengenang sejarah bukan berarti berjebak dalam halusinasi dan fantasi keberhasilan masa lalu, melainkan mempertahannya. Bukan berarti membanggakan apa yang pernah terjadi, melainkan melanjutkan perjuangannya. Terlalu menyedihkan karena suatu bangsa tidak lagi mengacuhkan nilai implisit dan eksplisit yang terkandung di dalam sejarah. Baik itu ditunjukan secara ril ataupun tidak. Masa memang telah berganti, namun bukan berarti rasa nasionalisme harus turut merosot dimakan waktu. Jangan sampai kekayaan pesan sejarah bangsa dipereteli perlahan-lahan oleh waktu.

Dewasa ini, nilai keramat sumpah pemuda mulai terasa aus. Kesakralannya kebanyakan hanya diisi dengan upacara peringatan sederhana, dan tidak jarang upacara itu "kosong", tidak sampai pada makna yang sesungguhnya. Padahal, di saat negara tengah terombang-ambing badai globalisasi ditambah rongrongan dan campur tangan bangsa asing, sehingga beberapa ciri budaya bangsa sendiri dirampas oleh bangsa lain seperti sekarang ini, persatuan dan kesatuan (united and unified) merupakan satu-satunya tembok beton yang dibutuhkan oleh negeri ini. Benteng pertahanan yang paling kuat agar dapat kembali menstabilkan keadaan negeri.

Tengoklah, para pemuda hanya bergeming menghadapi keadaan negara yang kian carut marut, bahkan tidak jarang mereka justru menambah kekacauan negeri. Menangislah Ibu Pertiwi menyaksikannya. Kenyataan bahwa para pemuda bangsa memiliki rasa nasionalisme tinggi kini bukan lagi sebuah realita, melainkan hanya sebagai sebuah ilusi. Ini bukanlah sebuah omong kosong. Karena pada kehidupan ril kini, para pemuda justru saling berlomba menghancurkan persatuan, setidaknya itulah yang secara kasat mata dapat di tangkap. Meskipun tidak seluruh pemuda bangsa memiliki pemikiran dangkal seperti itu. Fenomena ini seperti mufakat yang diinterupsi karena dianggap tidak relevan lagi dengan zaman.

Jika ditengok dengan seksama, jangankan membentuk forum untuk memikirkan masa depan negara. Para pemuda justru sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Saling bergerombol di suatu tempat dan menyatakan diri sebagai geng motor, menakut-nakuti masyarakat, melakukan tindak kekerasan secara brutal, tawuran, bahkan saling menganiaya satu sama lain. Sekuat apa pun proteksi yang diberikan kepada negara ini, akan selalu berakhir sia-sia jika para penerus bangsa tidak mencoba bangkit dan menuju jalan yang lebih baik.

Kini, nilai-nilai memang telah bergeser. Jika dulu nasionalisme, patriotisme, dan heroisme begitu dijunjung tinggi, maka kini egoisme, ekstrimisme, dan primodialisme-lah yang lebih mendominasi. Jangankan memiliki jiwa persatuan, justru yang diutamakan adalah gengsi dan arogansi. 

Padahal, kualitas para pemuda bangsa kini telah berpuluh kali lipat lebih maju dibandingkan dulu, ditunjang dengan mutu pendidikan, kebebasan berpendapat, kemajuan tekhnologi, dan seminar-seminar terbuka. Seharusnya itu telah cukup untuk menjadi benih dalam membangkitkan nasionalisme. 

Dalam konteks seperti ini, banyak yang harus dipelajari dari sikap pemuda dulu. Seperti berkaca di cermin yang retak. Jika pemuda dulu tampak tangguh dengan kobaran semangatnya, maka pemuda saat ini tampak menyedihkan dengan keleha-lehaannya. Ini memalukan!

Indonesia bukan lagi negara jajahan kolonial, tapi Indonesia adalah negara merdeka yang berdaulat. Berhentilah menyia-nyiakan cucuran peluh dan darah para pejuang. Para pemudalah yang memiliki andil besar di sini. Sejak dahulu, pemuda adalah tumpuan dan harapan suatu bangsa, jatuh bangunnya suatu bangsa tergantung pada para pemudanya. Zaman telah modern, berhentilah berpikiran kuno dan ortodok. Membangkitkan suatu bangsa tidak cukup hanya dengan mengandalkan kaum elit dan cendikiawan, namun seluruh rakyat semesta harus bergerak.

Kembalikan semangat nasionalisme dan patriotisme. Nasionalisme adalah sikap kesetiaan tertinggi seseorang yang harus diberikan kepada negara dan bangsanya, sedangkan patriotisme adalah sikap rela berkorban demi bangsa dan negara. Menurut Staub, patriotisme adalah sebuah keterikatan (attachment) seseorang pada kelompoknya (suku, bangsa, partai politik, dan sebagainya).

Dedikasi dan loyalitas para pemuda kepada Negara memang harus kembali dibangkitkan. Tengoklah negara-negara Asia Timur seperti Korea dan Jepang misalnya, mereka mengadakan program wajib militer bagi rakyatnya, semata-mata hanya untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Hal seperti itulah yang diperlukan bangsa ini. 

Tidak perlulah mengharapkan program wajib militer berjalan di Indonesia. Cukup para pemuda belajar dengan sungguh-sungguh, mempertontonkan prestasi dalam berbagai bidang ke kancah dunia. Memanfaatkan bakat, minat, dan kemampuan dalam hal yang positif. Buka seleba-lebarnya forum dan seminar tentang semangat nasionalisme. Jangan lagi ada kekerasan satu sama lain, tawuran antarpelajar dan mahasiswa, tawuran antarsuku, dan bentrokan antarmasyarakat. Mulailah semuanya dari hal kecil, seperti mencintai budaya sendiri.

Harus ada sedikit renovasi dalam diri bangsa ini, pupuk dan tumbuhkan lagi jiwa revolusi dan jiwa kepahlawanan. Bangunkan kembali Indonesia dari tidur panjangnya. Maju ke garda depan, jadilah permata, buatlah bangsa lain menjadi silau! (Penulis, siswa kelas XII IPA 2 SMAN 24 Kota Bandung)**
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme